Monday, August 29, 2005

Untuku dan sia-sia waktuku

Angin manatap awan yang terus menjauh,
Sayu matanya sedikit lebam, suram; penuh sekali penyesalan
Angin terus menatap awan dengan tajam
Layu bibirnya tak lagi mampu berbicara, kosong sudah akan hatinya

Ini sedikit cerita sedih, siang itu

Tertatap awan yang berbaju begitu indah, seperti biasa
Bermata bening, warnanya terang tak terbilang cantiknya
Melebihi segala bayangan selama ini, begitu indah

Angin diam membatu membeku, berbinar binatang ini

Kemana perginya semua waktu selama ini
Kemana hilangnya segala hari baik itu
Belum sempat ia mengumpat, sajak ditulisnya kemarin sore
sebegitu cepat terang melompat; tak nampak kelebatnya !

Sejuk sedekat ini tak pernah dirasanya setetespun tidak !
Di depan mata; tak terlihat menyentuh pun bukan
Mencoba mencarinya di hati selain dia, terus !
Meraba arang yang selalu membuatnya legam, apakah penghalang ?
Sebab ia tak melihat; tak terlihat; tak menginginkan

Buat awan kembali mendekap, teriak luluh hatinya
Janjikan segala apa yang sanggup menghangatkan;
Pangkas sedikit tangkai-tangkai kerdil, binasakan seluruhnya
Yang terdalam telah tergali, segala yang paling terdalam

Apa kata si otak ?

Hidup terburuk sekalian telah sirna
Tak akan bersama seperti mula-mula
Sedikitlah engkau menyimak pilihan-pilihan
Saksikan ! Bukan dia, tak kan dia lagi ! tersia-sialah !

Sebilah pisau menyayat, sebatang lagi kayu membakar
Hilang lentera sedetik sekejap, cepat !
Hendak pada siapa Angin mengikut ?
Tak rela ia; awan termiliki, sedangkan tak ingin memiliki pula !

Inilah angin, bodoh bahkan keji !

Berharap bersisa yang telah dienyahkan
Mencoba mendengar dengan telinga tuli
Sedikit pula mencoba melainkan bermimpi tanpa pula tidur !
Kapan ia terjaga, sedih menderu' kecewalah dia !

No comments: