Jendela kecil disudut ruang itu
Sebuah jendela usang yang mampu menghadirkan pemandangan indah, namun pilu
Sebuah jendela yang mau menceritakan sebuah cerita tentang gelas yang tak pernah terisi;
Tentang langit yang tak pernah menjadi biru; tentang lautan yang tak pernah ter-arungi
Tentang jalan-jalan yang menangis sedih yang tak pernah sekalipun mereka dilalui
Sebuah cerita yang mungkin hanya aku dan kamu yang akan membacanya
Dengarkan sedikit tentang cerita itu, cerita dari sebuah jendela:
" Jika hati telah berkata : " Jika aku telah menyayangimu kemarin"
" Maka sesunguhnya hati akan berkata : " Maka aku telah menyayangimu saat ini "
" Dan ada saatnya nanti hati akan berkata : " Dan aku akan menyayangimu kelak "
Hingga saatnya engkau akan berhenti bertanya; karena sesungguhnya hatiku telah menjawabnya
Kemarin, Saat ini, atau nanti, atau jika hingga kapanpun... hingga kapanpun
Adalah seorang pendusta jika aku berkata:
" Aku menyayangimu, dan bilakah engkau menyayangiku? bilakah engkau akan menggengam tanganku?"
Dan tak pernah mentari pagi kehilangan keindahan hanya karena mendung menguasai tepian langit
Dusta jika mentari hendak memusnahkan mendung itu, tak secuilpun keindahan akan bertambah
Dan tak pernah senja kehilangan keindahanya hanya karena lautan telah tersemaikan batu karang
Dusta jika senja hendak menghancurkan bebatuan itu, dusta!
Tak perlu bagiku menjaga hati ini, karena engkau tahu engkau tak akan pernah kehilanganya
Tak juga perlu engkau menjaga hati itu, karena aku tahu aku tak akan pernah kehilanganya
Tak akan pernah...
Bilamana sesungguhnya ketika kita diam, ketika itu hati ini dan hati itu akan berbicara